Bajrangi Bhaijaan

Foto: Internet

Gadis kecil bisu itu bernama Shahida. Dia terlahir di Pakistan dari seorang ibu yang beragama Islam. Terpisah dari orang tuanya dan terlantar di India membuat Shahida terasing dalam mayoritas masyarakat Hindu pada film Bajrangi Bhaijaan.

Film ini hendak menceritakan bagaimana seorang pemuda India berusaha untuk mempertemukan kembali Shahida kecil kembali ke keluarganya walaupun dengan rintangan yang sangat berat. Tokoh lelaki dengan nama Pawan Kumar Chaturvedi akhirnya menjadi pahlawan sang gadis berkulit putih itu.

Konflik India-Pakistan apalagi terkait dengan agama tidak membuat lelaki yang dipanggil Pawan itu mengalah. Dia tetap teguh dengan pendiriannya walau harus menghadapi segala rintangan. Apalagi sang calon mertua begitu benci dengan agama lain dan Pakistan.

Film ini saya tonton setelah mendapat rekomendasi dari beberapa kawan. Sambil bercanda, beberapa dari meraka menyarankan saya untuk menyiapkan ember agar bisa menampung linangan air mata.

Saya jadi menerawang akankah kisah itu seperti film India yang biasanya terkesan dengan percintaan dan diselengi lagu-lagu serta  tarian? Namun terawangan saya salah, semua yang saya bayangkan itu tidak terlalu dominan pada Bajrangi Bhaijaan ini. Malah yang paling ditonjolkan adalah bagaimana rasa sosial  yang tinggi membuat sebuah perseteruan jadi persatuan.

Awal cerita: pada sebuah diskusi keluarga, kakek Shahida menyarankan agar Shahida dibawa ke tempat suci Hazrat Nizamuddin Aulia di Delhi. Menurutnya, ditempat itu orang tak berlidahpun akan bisa berbicara. Dia sendiri yang menjadi saksi betapa hebatnya tempat itu. Saat berumur lima tahun dan tak bisa berbicara , tempat suci itu juga yang kini membuatnya bisa menceritakan kejadian hebat disana.

Rauf, ayah dari Shahida merasa ide ayahnya sulit untuk dilakukan. Dia berpikir India tidak akan pernah memberinya visa karena Rauf pernah di militer selama lima tahun. Malah menurutnya, lebih mudah melakukan perjalanan ke America daripada ke Delhi, India.

Namun rasa sayang dan cinta yang begitu besar membuat ibu Shahida menegaskan akan tetap menuju ke sana dengan cara apapun. Ayah Shahida akhirnya menjual beberapa domba untuk biaya kesana.

Sesampai disana, setelah menyelesaikan beberapa syarat dan beberapa ritual, Shahida dan ibu kembali ke Pakistan. Di tengah perjalanan kereta api yang mereka naiki mengalami kerusakan. Perpisahan ibu dan anak itu terjadi. Kelelahan menunggu dan melihat anaknya tertidur, sang ibu juga ikut terlelap.

Shahida terbangun ketika ibunya masih tertidur. Saat mengintip ke jendala, Syahida melihat seekor anak domba yang terjebak disebuah lubang berukuran sedang. Perempuan yang terlahir di keluarga peternak itu pun turun dan berusaha menolong anak domba yang malang.

Kisah pilu itu akhirnya terjadi, setelah berhasil menolong seekor domba, Shahida malah ditinggalkan kereta api yang telah diperbaiki dan  membawa ibunya dalam keadaan terlelap.

Di adegan selanjutnya, film yang bintangi Salman Khan, Kareena Kapoor Khan dan Harshaali Malhotra ini menggambarkan bagaimana Shahida terus mengikuti Pawan. Shahida yang dipanggil Munni oleh Pawan seolah tak mau jauh sampai dia diantar kembali ke Pakistan.

Dibantu calon isterinya Rasika, Pawan semakin semangat untuk membawa Shahida kembali ketanah kelahirannya. Sang guru disebuah sekolah itu terus memberikan saran dan ide agar Pawan bisa mengembalikan Shahida ke asalnya.

Pawan melakukan segala cara untuk menemukan orangtuanya, mulai dari berdoa ke sang Dewa Bajrangbali sampai menitip Shahida ke kantor polisi. Satu yang sangat disesalinya adalah ketika mempercayakan kepulangan Shahida ke Pakistan kepada salah satu agen. Namun Pawan berhasil menyelematkan Shahida dari rumah bordir tempat sang agen melakukan transaksi.

Karena kesalahan itu pula Pawan akhirnya memberanikan diri untuk mengantar langsung Shahida ke Pakistan tanpa visa dan harus menerobos perbatasan dan melewati terowongan yang sudah digali oleh orang-orang sebelumnya.

Di Pakistan, Pawan dan Shahida dibantu oleh Chand Nawab, seorang reporter freelance yang sebelumya menganggap mereka berdua sebagai mata-mata India. Segala cara mereka lakukan sampai menuju tempat suci Hazrat Amin Shah Dargah. Menurut kebanyakan penduduk disana tempat itu bisa menyatuukan kembali orang terpisah.

Akhirnya cara ampuh bisa ditemukan, karena beberapa media menolak laporan dari Chand Nawab, lelaki muslim itu mengupload kisan Pawan dan Shahida ke Youtube. Laporan Chand Nawab:

Assalamualaikum
Aku Chand Nawab
Hari ini aku akan bercerita kisah seorang pria yang kemari tanpa visa
Tapi nekat kemari melalui terowongan perbatasan di malam hari
Namanya adalah Bajrangi
Sama seperti polisi, awalnya kukira dia itu mata-mata
Tapi sekarang aku tahu kalu dia bukan mata-mata

Dan dia kemari untuk satu alasan
Cinta, Kecintaannya pada gadis cilik Pakistan usia 6 tahun
Yang terpisah dari orangtuanya di India
Saat semua usahanya sia-sia
Dia harus mengambil langkah ini untuk menemukan orangtuanya

Seluruh stasiun tv menolak menyiarkan kisah ini
Menyebutnya murahan dan buang waktu
Dan takkan ada yang tertarik
Jadi kuminta kalian agar membantu saudara Bajrangi
Untuk mempersatukan anak itu dengan orangtuanya
Dan agar dia juga bisa pulang kembali ke India dengan selamat

Diakhir cerita, semua yang diusahakan Pawan tercapai meski dia harus mendekam di penjara Pakistan setelah satu peluruh bersarang di tubuhnya. Pawan akhirnya bisa kembali ke India lewat perbatasan Narowal setelah dibantu polisi dan ribuan masyarakat Pakistan dan India. Kisah yang menceritakan bagaimana pentingnya rasa sosial itu berakhir saat Shahida atau Munni secara spontan bisa menyebut nama Pawan. Jai Sri Ram Paman!

Tulisan ini hanya catatan kecil dari sebuah film yang mungkin bisa diambil hikmahnya. Saya sendiri tidak menilai bagaimana kualitas film ini sendiri dari sudut sinematik yang ulung. Bagaimana seharusnya cara mengambil angle, kekuatan editing sampai konstruksi film itu sendiri. Ya, itu karena saya bukan orang yang bergelut di perfilman.

Melihat kisah dalam Bajrangi Bhaijaan mengingatkan saya tentang berita-berita yang dibaca selama ini. Runtuhnya rasa hidup sosial hanya akibat perbedaan-perbedaan pendapat sampai harus ‘mengagungkan’ hal-hal yang tak perlu ‘diagungkan.’ Apalagi masih dalam satu kepercayaan, Islam.

Dalam Islam sendiri, kita selalu diajarkan untuk bertasamuh, bagaimana menjadi ummat yang memiliki akhlak terpuji dan saling menghargai. Menurut bahasa, Tasamuh sendiri
diartikan tenggang rasa atau  menghargai sesama. Ada yang mengatakan bahwa  Tasamuh atau toleransi adalah sikap bagaimana menerima dan damai terhadap keadaan yang dihadapi. Misalnya, misalnya toleransi dalam agama, maksudnya antar agama saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing dan tidak saling mengganggu.

Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al Maidah 8)

Ayat di atas jelas mengajarkan kepada bahwa dalam kehidupan di dunia ini, sikap Tasamuh atau toleran terhadap sesama merupakan suatu keharusan. Alasannya tanpa adanya sikap tersebut, niscaya suatu masyarakat akan dilanda malapetaka permusuhan dan perpecahan. Karena itu, Allah SWT menghendaki hamba-Nya senantiasa bersikap tasamuh kepada siapapun, dan dari pihak dan golongan manapun, sehingga dapat menjalin pergaulan dengan rukun dan harmonis. Banyak juga dalil-dalil lain yang menjelaskan bahwa perlunya Tasamuh dalam kehidupan kita di bumi Allah ini.

Dalam sejarah kehidupan Rasulullah SAW sendiri, kita pernah mendengar bahwa Nabi Muhammad menampakkan sikap Tasamuh  pada masyarakat Madinah. Pada saat itu Nabi dan kaum muslimin hidup berdampingan dengan masyarakat Madinah yang beragama lain.

Lalu, apakah kita masih layak menonjolkan kesombongan kita? Diamana kita masih terombang ambing dalam dangkalnya pengetahuan kita tentang agama dan ilmu-ilmu lainnya.  Semestinya dapat kita simpulkan bahwa perlunya Tasamuh untuk melatih diri untuk berlapang dada, tenggang rasa, menahan diri, dan tidak memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain. Apalagi sampai mengkafirkan saudara-saudara kita sendiri.

Dari sikap toleransi itulah akan timbuknya kasih sayang. Sifat itu yang akan mendorong seseorang untuk menghargai dan menghormati orang lain. Tujuannya tentu menghindari kekerasan dan menciptakan kerukunan dan kedamaian hidup bersama orang lain. Seharusnya pula Tasamuh bisa kita gunakan untuk pengaman dalam komunikasi dan hidup bersosial.

Pawan, Shahida, Chand Nawab, Maulana Shahab yang berbeda keyakinan menunjukkan itu. Sebuah rasa kasih sayang, interaksi sosial dan sifat-sifat positif lainnya. Ini memang sebuah film, bukan kejadiannya nyata. Namun dalam kenyataan hal itu terjadi.

 

*Ahsan Khairuna

[Tulisan ini sudah pernah dimuat di Majalah Santunan Tahun 2015]

Rate this article!
Bajrangi Bhaijaan,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: