Istilah dalam Teater

Foto: Dokumen Pribadi

Ketika membuka kembali file-file lama di komputer, saya menemukan kembali kumpulan-kumpulan istilah dalam teater. Saya jadi teringat, saat menyelesaikan pendidikan S1 di fakultas dakwah IAIN Ar-Raniry.  Ya, bisa memakai toga karena menyelesaikan skripsi dengan judul Efektifitas Komunikasi dalam Pementasan Teater.

Hanya file dibawah ini yang tersisa dalam notebook tua:

 

Van Hoeve, Ensiklopedia Indonesia

Seni drama yang merupakan penampilan perilaku manusia dengan gerak, tari juga nyanyian yang pada bagian tertentu diiringi musik. Didalamnya terdapat dialog serta acting pemain. Istilah teater  berasala dari kata theatron yang artinya tempat ketinggian sebagi tempat meletakkan sesajian persembahan bagi para dewa. Dalam perekembangannya, fungsi teater  mengalami beberapa perubahan, tempat persembahan menjadi arena pertunjukkan tempat gladiator mengadu kekuatan. Kemudian istilah theatron berubah menjadi theatre (Inggris) atau theater (Belanda) yang artinya gedung, panggung atau pentas tempat pertunjukkan seni drama berlangsung. Kini umumnya pengertian teater dan seni drama sudah berbaur dan keduanya merujuk pada seni berperan diatas pentas. Dalam praktiknya arti teater sebagai seni mempunyai cakupan arti luas daripada seni drama.

 

Radhar Panca Dahana, HOMO THEATRICUS

Joseph Chaikin, “The Presence of the actor” mengatakan sesungguhnya tidak ada perbedaan paham yang berarti mengenai posisi dan peran seni teater sejak masa pertama ia percaya ada; setidaknya sejak bukti penampilan teater pertama kali sekitar 1887-1849 SM yang ditemukan di dinding pyramid, atau mungkin lebih jauh lagi pada masa Sumeria dan Babylonia.

Teater pada waktu-waktu awal tersebut menjadi kegiatan selebrasi dari masyarakat pemiliknya, bahkan konon telah mendapatkan fungsinya yang penting sebagai salah satu agen evolusi sosial.

Kerja kreatif seperti dalam kesenian (teater) adalah upaya tak habis-habisnya untuk mengenali dan menghadirkan manusia. Dan dalam situasi kemanusiaan seperti itu, teater menjadi sebuah panggung yang memaksakan kolase dari serpihan-serpihan manusia, dari wujud yang tak jelas asalnya.

Teater  modern Indonesia kini jelas dihadapkan pada tuntunan ontologism untuk lebih dulu menjelaskan ada dan tiadanya manusia, yang mungkin terjelmanya sebuah peran diatas panggung.

 

Japi Tambajong

Dasar-Dasar Dramaturgi

Teater atau drama di Indonesia memiliki bentuk-bentuk yang sering dipergunakan oleh organisasi teater Indonesia. Dari berbagai bentuk yang ada, sekurangnya kita kenal tiga modus bentuk yang penting, yaitu Modus bahasa, modus aliran dan modus sajian.

  1. Modus Bahasa. Yang kita perlihatkan dalam modus bahasa adalah gaya yang dipakai dalam penulisan, terikat atau tidak pada kaidah-kaidah bahasa
  2. Modus Aliran. Yang kita perhatikan dalam modus aliran adalah gaya yang ditentukan oleh sikap yang tumbuh pada kurun-kurun tertentu, kemudian menjadi pola. Dalam kurun klasik Yunani hingga kini, terjadi banyak sekali aliran. Kita hanya menyebut beberapa saja.
  • Klasisme: Aturan sebuah naskah sangat ditaati, antara lain lakon berjalan lima babak dan temanya sekitar kutukan akan jatuh kepada manusia yang laknat dan bebal.
  • Neoklasisme: Bentuk drama dengan tiga segi yang mendasar, yaitu kebenaran, kesusilaan, dan kegaiban. Syahadat kaum neoklasik adalah segenap alam dikuasai oleh satu Tuhan.
  • Romantisme: Bentuk drama yang lahir pada abad ke-18 diwarnai oleh sikap yang kukuh, bahwa manusia dapat menemukan apa saja berkat keampuhan analisa akalnya, dan tindakan apapun bentuknya dapat ditentukan oleh sifat alamnya.
  • Realisme: Bentuk drama yang tumbuh pada abad ke-19, bergaung dari tata nilai yang berlaku akibat pikiran kaum positivisme terutama karena pengaruh buku Charles Darwin (The Origin of the Species)
  • Simbolisme, sebutan lain, neoromantisme dan impresionisme: Aliran ini berangkat dari gerakan kesadaran bahwa hakekat kebenaran hanya mungkin dipahami oleh intuisi. Ia menolak sifat-sifat yang umum tentang pengertian “kenyataan” Maka kebenaran sebagai suatu kenyataan, tak bisa dirumuskan dengan bahasa logika sendiri. Ia hanya bisa diarahkan dengan simbol-simbol.
  • Ekspresionisme: aliran seni di abad ke-20 ini menantang keampuhan realisme
  • Absurdisme: Bentuk drama dari tahun 50-an sama sekali bersumbu pada pandangan bahwa dunia ini netral. Kenyataan dan kejadian adalah tak berwujud. Setiap insan harus menemukan sendiri nila-nilai hidup yang tanggung menghidupkan hidupnya, sejauh itu ia pun harus mau menerima bahwa nilai-nilai yang ditemukannya itu sesungguhnya absurd.
  • Suryalisme: Suryalis merupakan pembelokkan realitas tapi dituangkan dalam keadaan seakan-akan real. Konsep awalnya adalah objek real (dalam imajinasi atau pikiran bawah sadar sang artis) lalu dipaksakan menjadi real dalam bentuk visual art.
  1. Modus Sajian. Bagaimana bentuk dramatiknya? Apa yang dikandung dalam jalinan perasaan yang menunjang cerita. Dari situ akan kita dapati sifat-sifat drama. Kita sebut disini lima saja. Tragedy (drama berujung dengan duka cita, maut menjemput tokoh utama), komedi (cerita berakhir dengan suka cita), tragikomedi (dua paras perasaan yang digabungkan, tragedy dengan komedi), melodrama (oprea yang dicakapkan dengan iringan musik, atau pada lakon yan tidak bicara apa-apa dibantu emosinya lewat musik), dan farce (sajian gerak lebih bersifat karikatural. Ceritanya berpola pada komedi. Gelak diwujudkan pada kata dan perbuatan).

 

Herman J waluyo

Drama Teori dan Pengajarannya.

Tradisi berteater sudah ada dalam masyarakat bangsa kita dan ini terbukti dengan sudah adanya teater tradisional diseluruh tanah air antara lain:

a. Teater Tradisional

Teater yang berkembang dikalangan rakyat disebut teater tradisional, sebagai lawan dari teater modern dan kontemporer. Teater tradisional tanpa naskah (bersifat inprovisasi). Sifatnya supel, artinya dipentaskan disembarang tempat. Jenis ini masih hidup dan berkembang didaerah-daerah seluruh Indonesia. Yang disebut teater tradisional itu, oleh Kasim Ahmad diklarifikasikan menjadi 3 macam, yaitu:

  • Teater rakyat: sifat teater rakyat sama halnya seperti tradisional, yaitu improvisasi, sederhana, spontan dan menyatu dengan kehidupan rakyat. Contohnya antara lain: Makyong dan Mendu didaerah Riau dan Kalimantan Barat, Randai dan Bakaba di Sumatera Barat, Ketoprak, Srandul, Jemblung di Jawa Tengah dan lain sebagainya.
  • Teater Klasik: sifat teater ini sudah mapan, artinya segala sesuatunya sudah teratur, dengan cerita, pelaku yang terlatih, gedung pertunjukkan yang memadai dan tidak lagi menyatu dengan kehidupan rakyat (penontonnya). Lahirnya jenis teater ini dari pusat kerajaan. Sifat feodalistik tampak dalam jenis teater ini. Contohnya: wayang kulit, wayang orang dan wayang golek. Ceritanya statis, tetapi memiliki daya tarik berkat kretatifitas dalang atau pelaku teater tersebut dalam menghidupkan lakon.
  • Tetaer Transisi: Teater transisi merupakan teater yang bersumber dari teater tradisional, tetapi gaya penyajiannya sudah dipengaruhi oleh teater barat. Jenis teater seperti komedi istambul, sandiwara dardanela, srimulat dan sebagai contoh, pola ceritanya sama dengan ludruk atau ketoprak, tetapi jenis ceritanya diambil dari dunia modern. Musik, dekor dan properti lain menggunakan tehnik barat.

b. Teater Muluk

Grup teater ini merupakan awal grup teater yang meninggalkan ciri-ciri tradisional, misalnya sebagai berikut:

  • Tidak lagi bersifat improvisasi, tetapi naskah sudah mulai membagi peran
  • Tidak lagi mengandalkan segi tari dan lagu
  • Struktur lakonnya tidak lagi statis, tetapi disesuaikan dengan perkembanga lakon atau cerita sastra

c. Komedi Istambul

Lahir pada tahun 1891 dan didirikan oleh August Mahieu, menampilkan lagu-lagu melayu, maka komedi stambul disebut pula opera melayu. Cerita yang ditunjukkan sudah merupakan cerita yang bervariasi, seperti 1001 malam, Nyai dasima, Si Conat, Hamlet dan sebagainya.

d. Dardanela

Didirikan oleh Willy Klimanoff yang kemudian mengganti namanya dengan A Piedro. Dalam teater ini tidak ada lagi nyanyian. Lakon diambil dari Indische Roman.

e. Maya

Timbulnya teater maya dipengaruhi oleh saudagar-saudagar cina yang gemar akan teater. Maya dipimpin oleh Umar Ismail. Bersama itu muncul pula Cahaya Timur yang dipimpim Anjar Asmara. Berkat pengaruh pendidikan barat, banyak karya asli yang dihasilkan. Naskah-naskah mengambil dari bumi Indonesia, meskipun masih meneladan pentas dunia barat.

f. Cine Drama Institute

Lahir di Yogya tahun 1948 dan merupakan embrio bagi ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film) dengan pusatnya di Yogyakarta. Banyak tokoh Yogyakarta yang mengembangkan teater seperti: Kirdjomoljo, Rendra, Soebagio Sastrowardjo, Dokter Hoejoeng, Sri Moertono dan lain sebagainya.

 

Rate this article!
Istilah dalam Teater,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: