Sepenggal Memori Molot

Foto: Dokumen Pribadi

Menarik bagi saya saat membaca Kenduri Sepanjang Tahun yang ditulis budayawan Aceh, Nab Bahany As pada majalah Santunan edisi III tahun 2015. Namun ada satu nama bulan yang seperti tak bisa dipisahkan dari masyarakat Aceh. Ya, Rabbiul Awal, bulan yang identik dengan kenduri molot, kenduri bagi sebahagian masyarakat muslim yang ikut memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Seperti yang ditulis Nab Bahany As, dulu biasaya masyarakat Aceh memberi tiga bagian dari tiga bulan untuk melakukan kenduri besar-besaran itu. Bulan itu antara lain Rabiul Awal (Buleun Molot), Rabbiul Akhir (Buluen Molot Teungoh) dan Jamdil Awal (Buleun Molot Keuneuleuh).

Biasanya, saat peringatan maulid itu dilakukan, secara silih berganti tiap gampong atau desa mengudang gampong lainnya untuk memeriahkan acara tersebut. Jumlah undangan tergantung berapa jumlah hidangan yang disediakan si tuan rumah.

Yang paling disibukkan tentunya adalah kaum ibu-ibu. Mulai dari belanja di pagi hari sampai mengolah menu hingga siap santap. Seolah ingin memberikan yang terbaik, masyarakat menyiapkan menu-menu level tinggi. Mulai dari bu kulah (nasi yang sudah dibungkus dengan daun pisang), kuah beulangong, kuah tuheh atau peungat, ayam goreng, rendang, asam udang, telor asin, telor ayam, ikan sambal lado, rujak Aceh dan beberapa menu lain yang tak kalah nikmatnya. Walau terkadang, dalam kesehariannya sebahagian masyarakat yang ikut menyumbang makanan pada kenduri itu hidup dibawah kata sederhana.

Di beberapa tempat, kenduri dilakukan pada jam yang berbeda-beda. Namun, kebanyakan dari masyarakat menyusun jadwalnya ba’da ashar, hingga pola dalam beberapa bulan itu sedikit terganggu. Pola makan sehat seperti tidak berlaku pada perayaan itu, sehingga muncul beberapa lelucon dari beberapa teman saya. Nyoe buleun kolesterol (ini bulan kolesterol). Masuk akal, karena dengan menu yang begitu nikmat, tentunya bagi orang-orang yang memiliki riwayat penyakit kolesterol tinggi, asam urat sampai rematik harus berpikir dua kali untuk menyantap hidangan kenduri.

Persiapan demi persiapan di lakukan jauh hari sebelum hari H tiba. Masyarakat memulai dengan rapat panitia untuk membicarakan agenda apa saja yang harus dilakukan. Mulai dari persiapan tempat, memasak kuah beulangong (kuah kari kambing atau sapi) sampai menyiapakan sosok penceramah yang memiliki humor tinggi.

Saat masih duduk di bangku madrasah tsanawiyah, ada hal yang paling saya tunggu-tunggu bersama beberapa anak-anak lainnya. Berkeliling menyampaikan pengumuman sebelum malam puncak tiba. Ya, sebelum malam puncak tiba, ada beberapa orang yang bertugas berkeliling ke desa-desa tetangga untuk memberikan pengumuman bahwa ada ceramah molot pada malam harinya.

Tentunya sangat menyenangkan beramai-ramai menaiki mobil pick up dengan satu buah toa sebagai alat pengeras suara berkeliling desa untuk mengumumkan siapa yang akan mengisi tausiah pada malam itu. Seperti ini kira-kira bunyi pengumumannya:

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh
Syedara-syedara kamo ban mandum
Kaom mak nyang meutuwah
Kaom ayah nyang meubahgia
Bek tuwo-tuwo
Enteuk malam, sama-sama geutanyoe meulangkah bak meunasah gampong…….
Untuk bersama-sama tanyoe deungoe bersama
Ceuramah molot nyang akan geu sampaikan oleh tengku………

Biasanya penceramah yang di undang sosok yang sudah terkenal dan memiliki humor tinggi, tujuannya agar dapat mengundang banyak orang berduyun-duyun untuk ikut meramaikan ceramah pada malam tersebut.

Pada sisi lain, malam ceramah molot itu adalah malam yang spesial bagi para pedagang-pedagang kecil. Biasanya pedagang menjajakan jualan mereka seperti kacang rebus, jagung rebus, rokok, makanan ringan sampai berbagai macam mainan anak kecil dan itu berlangsung sampai saat ini.

Nasehat Semalam

Lebih kurang tiga jam lamanya, pada malam kenduri molot itu masyarakat disuguhkan nasehat-nasehat bagaimana seharusnya meneladani sosok Rasulullah SAW. Tengku penceramah terus mengingatkan sifat-sifat Rasulullah yang Shiddiq, Amanah, Fathanah dan Tabliqh. Nabi yang selalu perkataan dan perbuatannya benar, Nabi yang terpercaya sehingga dijuluki Al Amin, Nabi yang selalu menyampaikan risalah-risalah tuhan dan sosok nabi yang sangat cerdas.

Seperti dalam firman Allah SWT surat Al-Ahzab ayat 21: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah”

Penceramah juga sering menekankan bahwa mengenali sifat-sifat Rasulullah cara bagaimana kita serius ingin mengikuti segala keteladanan beliau. Banyak hadits yang menceritakan sifat-sifat yang sangat luar biasa dari sosok Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah lelaki yang jujur, baik hati, pemalu, lemah lembut, rendah hati, sangat sederhana pemaaf dan selalu tersenyum.

Dalam hadits riwayat Ahmad dan Tirmidzi, Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya: “Apakah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam rumah?” Ia radhiyallahu ‘anha menjawab: “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga menuturkan dalam HR. Al-Bukhari: “Kami, keluarga Muhammad, tidak pernah menyalakan tungku masak selama sebulan penuh, makanan kami hanyalah kurma dan air.”

Sosok dan gaya hidup Rasulullah SAW yang sangat sederhana dan tidak berlebihan itulah yang selalu diingatkan dalam ceramah-ceramah molot pada setiap kenduri itu. Namun, terkadang kita terlena, seperti sengaja lupa dan terus bergelut dengan kesibukan-kesibukan yang sedikitpun tidak menggambarkan sosok ummat Rasulullah SAW itu sendiri.

Yang lebih memperihatinkan lagi, saat tausiyah-tausiyah yang diberikan tengku pada malam itu hanya tertanam sesaat saja di otak kita. Seakan-akan begitu sulit untuk merekam pesan-pesan penceramah. Mungkin kerena mata yang sudah tak sanggup menahan lagi rasa kantuk akibat perut yang sudah dipenuhi bu kulah, kuah beulangong, kuah tuheh, ayam goreng, rendang, asam udang, telor asin, telor ayam, ikan sambal lado sampai pedasnya rujak yang dibumbui caplak yang terkadang di dapat dengan cara hutang.

Ini hanya sepenggal cerita yang mungkin kita alami bersama. Setiap peringatan molot, selalu ada usaha-usaha untuk membuat yang terbaik dan mengingat kembali bagaimana Rasulullah SAW menjadi sosok yang paling sempurna di muka bumi ini. Sebagai ummatnya pula kita harus berusaha meneladani Nabi Muhammad SAW setiap hari dan tidak harus pada kenduri-kenduri tertentu saja.

Ya nabi salamu ‘alaika
Ya rasul salam ‘alaika
Ya habib salam ‘alaika
Shalawatullah ‘alaika

 

*Ahsan Khairuna

[Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Santunan Tahun 2015]

Rate this article!
Sepenggal Memori Molot,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: